IKLAN ANDA

IKLAN ANDA

Sosialisme Kerakyatan Beda Banget Dengan Sosialisme Komunis


EDUCATIO FILES - Socialism refers to a broad array of ideologies and political movements with the goal of a socio-economic system in which property and the distribution of wealth are subject to control by the community.[1] This control may be either exercised through popular collectives such as workers’ councils or on behalf of the people by the state. As an economic system, socialism is often characterized by state, worker, or community ownership of the means of production, goals which have been attributed to, and claimed by, a number of political parties and governments.

The modern socialist movement largely originated in the late–19th century working class movement. During this period, the term “socialism” was first used by European social critics, who spoke against capitalism and private property. Karl Marx, who helped establish and define the modern socialist movement, wrote that socialism would be achieved through class struggle and a >>proletarian revolution.[2] Marxism has had a lasting influence on most branches of socialism.

Misalnya dibandingkan dengan sosialisme-demokrasi: Sosialisme-Demokrasi (Kerakyatan) di Indonesia berbeda dengan “sosialisme komunisme” ala Moskow. Karena dalam sistem komunisme-moskow, manusia hanyalah bagian abstrak dari sebuah kelompok, kelas atau kolektif sistem. Komunis hanya memandang manusia sebagai tenaga kerja saja, hanya bagian sebagai faktor produksi. Komunis juga berbeda dengan sosialisme-kerakyatan dalam hal semangat dan mental. sosialisme di Indonesia yang berbasis demokrasi mengannggap pentingnya peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Komunis-moskow dalam teori dan prakteknya juga berbeda dengan sosialisme-kerakyatan dimana komunisme dalam pengertian persatuan / kesatuan dan kesamaan hak hidup manusia/egalitarian. Komunis-moskow mengenal solidaritas antar-kelas tapi pada prakteknya, komunisme-moskow hanya bertujuan menegakan ‘disiplin partai’ saja.

Dalam prakteknya, komunisme-moskow menganggap kelompok atau orang yang tidak seanggapan dengan partai sebagai musuh. Sosialisme-Kerakyatan tidak begitu. Oleh karena itu, Komunisme-Moskow justru bertolak belakang dengan sosialisme berbasis demokrasi. (Referensi: Sjahrir, Indonesian Socialism, 1951)

Dalam buku buku lama seperti Brackman, Indonesia Communism (1963), sosialisme-demokrasi sering dikategorikan sebagai “Right-Wing Socialism” sementara Moscow based komunism dianggap sebagai “Left-Wing Socialism” (?). sosialisme-moskow ini pada periode 1920-1950 sering dianggap sebagai “Komunisme-Stalin”.

Kita tengok kebelakang, Agus salim, pada 1918 di sebuah sidang SI mengutarakan “Sosialisme sudah ada pada ajaran agama dari ratusan tahun yang lalu”. Bung Hatta pada 1948 pun berpendapat “Sosialisme di Indonesia adalah sosialisme yang berasal dari Barat, akan tetapi sosialisme di Indonesia adalah sebuah sinkretis antara sosialisme barat dan sosialisme yang berasal dari Agama. Basisnya adalah jika ada sepotong roti, bagilah roti itu kepada temanmu”. (Referensi: Marx, Mohammedan and Marhaenism, 1961)

Selanjutnya, Hatta menjelaskan, sistem ekonomi komunis adalah suatu perekonomian yang terpimpin sama sekali dari pusat. Kemerdekaan bergerak bagi bagian bagianya tidak ada. Seluruh sistem ini merupakan apa yang disebut dalam bahasa Inggris “pure collectivism”. Disini tidak ada tempat bagi ‘perusahaan pribadi’ atau koperasi sebagai badan usaha yang mempunyai otonomi. Oleh karena disini pimpinan dipusatkan sepenuhnya dan hanya pimpinan pusat yang memutuskan, maka rakyat tidak ada mempunyau tujuan dan semangat ekonomi sendiri. Konkurensi hanya ada dan dianjurkan dalam hal perlombaan bekerja, untuk memperoleh sistem bekerja yang terbaik serta hasil yang terbesar.

Selanjutnya, Hatta menjelaskan perbedaan sosialisme-demokrat dan sosialisme-komunis sbb:

Ditilik benar-benar, Marx adalah nabi dari sosialisme. sosialisme sepeninggalnya terpengaruh oleb 3 macam aliran.

Ada aliran jang mau memperbarui pandangan teori dan politiknja, disesualkan dengan kenjataan. Aliran ini disebut revisionisme dan reformisme jang dianjurkan oleh Bernstein. Revisionisme, karena mengadakan ” perubahan pada teori.

Reformisme, karena menempuh djalan ke sosialisme dengan mengadakan reform, perubahan berangsur-angsur pada kapitalisme dengan mengutarakan perjuangan di dalam parlemen. Mereka percaya, dengan pelaksanaan demokrasi kaum buruh lambat-laun akan mencapai suara yang terbesar dalam parlemen.

Ada aliran jang berpegangan teguh kepada adjaran Marx, aliran dogmatik jang mula-mula dipimpin oleh Karl Kautsky.

Ada pula aliran, jang secara teori tetap berpegang kepada Marx, tetapi dalam politik menempuh jalan yang revolusioner. Aliran ini dipimpin oleh Lenin. Ajarannya terkenal kemudian sebagai Komunisme ala Lenin atau leninisme.

Menurut Lenin, untuk melaksanakan peralihan dari kapitalisme ke sosialisme, orang tak perlu menunggu sampai kapitalisme matang, tetapi setiap ada kesempatan bági kaum buruh untuk merebut kekuasaan, kesempatan itu dipergunakan sepenuh-penuhnya.

Aliran jang pertama dan kedua tetap didalam gerakan partai sosial-demokrasi, sebagai sayap kanan dan sayap kiri. Sedangkan Lenin memisahkan diri. Mendirikan organisasi sendiri yang kemudian menjadi partai komunis. Bagi lenin, untuk mencapai tudjuan tidak perlu adanya partai massa. Aksinya didasarkan kepada anggota inti yang sedikit jumlahnya, tetapi bertekad keras dan berdisipin saja.

Kemudian. ada lagi gerakan sosialisme jang lepas sama sekali dari adjaran Marx. Sosialisme tidak lagi dipahamkan sebagai susunan masjarakat baru jang datang dengan sendirinja sebagal pembawaan per-kenbangan masyrakat atas dorongan hukum dialektikme melainkan dikehendaki sebagal tuntutan hati. Sosialisme dipandang sebagal suatu pergaulan hidup jang mendjamln kemakmuran bagi segala orang, kemakmuran jang senantiasa bertambah besar .

Tetapi bagaimana djuga berbeda pendapat tentang sosialisme dan cara mencapainya, dalam satu hal ada persamaan :

Semua Sosialisme menghendaki suatu pergaulan hidup, dimana tidak ada lagi penindasan dan penghisapan dan dijamin bagi rakjat, bagi tiap-tiap orang, kemakmuran dan kepastian penhidupan serta perkembangan dan kepribadianya. (Referensi: Hatta: Persoalan Ekonomi sosialis Indonesia , Kuliah di UI pada 1961)

Nah , kalau ditinjau secara dialektikal historis, keadaan Indonesia pada 1930 ( Dunia mengalami great depression–>harga raw material dari indies jatuh, kehidupan berpolitik di berangus meskipun ethical policy masih digunakan), partai sekuler yang berbasis di Indonesia dikategorikan menjadi (Brackman,1961):

- Nasionalis Otoriter (Soekarno dengan Old PNI dan Partindo-nya)
- Sosialis Demokrat (Hatta dan Sjahrir dengan PNI baru-nya)
- Nasionalis-Komunis-Trotskyisme (Tan Malaka dengan PARI-nya)
- Komunis-Moskow (Musso dengan PKI Illegalnya).

Indonesia merdeka pada Agustus 1945, masing2 partai dan ideologi tersebut berkembang dan menjadi basis pemerintahan, kabinet Achmad Subardjo pertama merupakan kabinet bayangan Tan Malaka (PARI), kabinet Sjahrir (tiga kali) merupakan kabinet dengan warna sosial-demokrat, kabinet Amir Sjarifudin adalah representasi dari PKI (meskipun saat itu masih menggunakan partai sosialis dan bergabung dengan kubu Sjahrir).

Selanjutnya Kabinet Hatta juga merupakan kabinet Sosialis-Demokrat yang mayoritas berbasis agama (Masyumi).
Share on Google Plus

About Ramches Merdeka

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.